Ancaman samakan budaya

comments         Published     Updated

"Moralisme telah masuk ke birokrasi dan klinik. Bukan moralitas. Sehingga, mereka tak bisa membedakan 'berkeluarga' dengan 'bersetubuh', memeriksa fizik [badan] dengan memeriksa moral, 'bertugas di luar kota' dengan 'tak pakai kondom'"Ayu Utami dalam majalah Djakarta! (Mei, 2002)

"Saya mau masturbasi, ah," tulis Ayu Utami di awal-awal sebuah rencananya. Novelis dari Jakarta ini popular, dan pemenang anugerah sastera, dengan Saman dan Larung . Mujurlah dia berbicara lanjut: "Yaitu asyik berbicara tentang diri sendiri. Lagi-lagi tentang topik yang membosankan: kawin atau tidak kawin."

Tulisan "kurang sopan" ini boleh dibaca dalam himpunan catatan pendek, Si Parasit Lajang . Karya terbaru Ayu terbahagi tiga. Kupasan berani isu-isu kondom, selera seks, mimpi basah, patriarki, anak patung Barbie, tetek atau bintang porno dikelaskan di bawah bahagian "Seks, jender dan kapitalisme".

Sangat sukar (apakah pernah ada?) penulis di Malaysia mengupas persoalan seumpama ini dengan mudah dan menghiburkan tetapi matang dan rasional. Apatah lagi penulis "lancang" ini seorang wanita pertengahan 30-an yang tidak mahu berkahwin dan sudah mengumpul, bukan sekali gus, lima orang pacar. "Di luar yang lima (tadi) tak terhitung pacar," tambahnya.

Paling dekat, dua antologi puisi (edisi samizat) Mitos Sperma Amerika buah tangan tiga penulis muda dan Bogela Testikal , karya aktivis-wartawan Rahmat Haron. Tetapi Ayu membentangkan isu-isu "sensitif" ini melalui 13 rencana (bukan cereka) dalam dua majalah antara Mei 1998 hingga Februari 2003.

For the rest of this story and more, subscribe for only RM150 a year (full news access)
or RM420 a year (full news + full archive access). If you're already a subscriber, please sign in.

Sign in Subscribe now


Malaysiakini
news and views that matter


Sign In