A gurindam, a hikayat and the Olympiad’s Creed
Here are three poems. Puisi tiga serangkai.
Here are three poems. Puisi tiga serangkai.
Gurindam Raja Capati
- azly rahman
merdeka kala ini
janji di capati
tosai dengan kari
sambal ikan tenggiri
mertabat di murtabak-i
bangsa di klentongi
nusa di nodai
capati di janji
kari di-tosai
tangan di gari
BERSIH di kasari
REMPIT di agungi
KUTU Brahak di agungi
beg coach di rampasi
rumah acapkali di rompak-i
selangor di kemarau-i
johor baru "sin city"
fatwa di mass-produksi
merdeka masakini
harga proton mencekek diri
kemiskinan melanda negeri
pembesar negara janji capati
bukak posa hisap cerut BD
pekena tosai dengan capati
agar janji di kota-i
pilihanraya tak lama lagi
gajah naik titi
jalak lenteng mengamuk lagi
kota raya
hantu raya
hari raya
putrajaya
cyberjaya
kelana jaya
semua raya
makan capati
hari pertama aidilfitri
capati tosai
sarapan pagi
simbol merdeka negara murni
buat duit berguni guni
haram halal lu-gua tak kesah semua ini
simpan dalam bank luar negeri
dibawa mati
beli tiket ke shurga nurani
dosa pahala tidak di endah-i
itulah angkara janji capati
pembesar negeri makan john's roti
rakyat di paksa ketuk-ketampi
minum air bunga agar berseri
jaga imej janji capati
hari raya makan capati
agar janji tetap di meterai
memanda menteri makan apa hari ini?
makan capati
berulamkan setanggi?
gurindam ini gurindam capati
ku nukilkan buat merdeka mu di kala ini
capati tetap di janji
janji kita janji capati
Hikayat Ringkas Hang Li Po
Nukilan: Azly Rahman
Maka kata sang empunya cerita
alkisah Maharaja Cina
menghantar gundeknya yang entah ke-berapa
ke negeri Melakka Darul Durian Parameswara Punya
di hantar gundeknya Li Po
agar Si Sultan of Swing bahagia kali ke lima
sebagai isteri nombornya lima
Itu strategi kita, kata Sang Maharaja kepada ketua armada nya Zheng Hi
kita hantar itu Li Po jelita, kita tawan itu Melakka
Lepas itu kita singgah Petaling Jaya
Kemudian ke Petaling Street kita jual itu barang ‘fake’ punya
Boleh boleh boleh... Zheng Hi berkata kata gembira kepada Maharaja
Laksmana Zheng Hi itu ketua penjaga gundek gundek jelita
Karena dia itu tiada lagi jantina
seperti orangnya Bruce Jenner
Maka rancangan diplomatik purba kala di bincang oleh
Maharaja Ming dan Laksamana Zing di bawah pohon bambu di luar penjara Sing Sing di benua Cina
maka gundeknya Li Po di berikan tiket kapal percuma untuk ke Melakka
bersama sama 500 orang bodyguard nya terlatih ilmu silat pengantin Cina
menaiki Tongkang Luxury Gergasi melewati cruise liner zaman moden kita ini
Maka bergumbiralah Li Po dapat kesana
manjalankan amanat Maharaja Agung, dengan penuh setia
Dapatlah aku berhenti kerja, mengeluh panjang bunyi suaranya
dari jadi gundek serta ahli sarkas akrobat handal seantero dunia
Maka hari pun petang
Kapal ke Melakka sudahpun datang
Diplomat dan delegasi Dinasti Ming siap sedia
Dapat tiket percuma
Melancung sambil berkahwin dengan jejaki jejaki tampan
dari Semabok, Alor Gajah, Umbai, serta daerah daerah sewaktu dengan nya
“Hoorey... Hip Hop Hoorey,” kata Hang Li Po dengan manjanya kepada ibu bapanya
sampai niat kita nak ke Petaling Street beli baju raya
Sedihnya tak terperi sang ibu bapa tercinta
Maklumlah kan berpisah dengan Li Po anak mereka seorang saja
Ya lah kita faham - anak mereka seorang saja
Jika beranak dua atau tiga akan didenda
Itulah polisi Kerajaan Kominis China
Banyak anak maka banyak manusia nantinya dunia huru hara
Logik nya... “ya tak ya juga”... bak orang Johor kata
Maka bersambung lah cerita purbawara perihal cerita awal mulanya
Jalan Alor dan segala kerenah kumpulan si baju merah nya.
Tapi ingat pembaca budiman semua
Jangan di tanya mengapa: Li Po ada ‘Hang’ di awal namanya
Kita hanya boleh meneka apa asal usul ceritanya
Bagaimana Li Po menjadi puteri kemudiannya
dan di paspot nya ‘HANG LI PO’ nama di beri
Begitu juga 500 orang ahli delegasi yang ikut sekali
apakah mereka semua ada ‘Hang’ di selit di nama Cina mereka mak bapak sudah beri?
Kemudian di beri tempat tinggal bak kondominium Kota Beijing indah sekali
Bukit Cina nama di beri oleh Sultan Melaka pemurah tak terperi
Tiket di beri sememangnya sehala saja
Bukan sebab Matawang Yuan jatuh teruk di pasaran dunia
Itulah strategi si Maharaja Cina, dibantu sang laksamana tiada jantina
agar Melaka nanti mengalami pertumbuhan pesat populasi nya
OK-lah kita sambung hikayat ini selepas dinihari
setelah hilang jerebu yang amat gila sekali,
juga setelah selesai kes Petaling Street yang di nanti nanti
*Okay kasi itu tosei satu lagi... teh terbang kurang garam satu lagi... *
Wassalam, penutup cerita.
Ampun maaf ku pinta
Jika terkasar bahasa
Tersalah teka ini cerita
Hikayat Li Po wanita benua Cina nan jelita
The Creed of the Everyday Olympiad
we are
each of us
a hero with a thousand faces
an epic journey of those complex
plots and subplots,
some we wrote some crafted by others
we had the chance to choose
to take the challenge and to leave home
to be separated from the one we love
to meet one challenge after the other
to stay and fight and to be killed and be resurrected
to be thrown into the belly of the beast
and to come out half dead yet still alive
to meet our guide inside
in the most unexpected circumstances
yet the guide is all-knowing all-seeing
in this journey of a thousand paths
until we slay the dragons
the elixir we earned
our Self never again be the same
yet ready to be called again, for yet another journey
harder - more forking paths, more beasts, more resurrections
until we are shown the way home - again
a hero of a thousand faces, a soul a thousand times cleansed
a spirit a thousand more beaten, bruised, bloodied, yet alive still
we are all that
because we are the chosen one
each one of us -
a thousand heroes within
an epic poem we have written
to make Life a tapestry
of an Olympic of the Spirit
DR AZLY RAHMAN grew up in Johor Baru, Malaysia and holds a Columbia University (New York City) doctorate in International Education Development and Masters degrees in the fields of Education, International Affairs, Peace Studies and Communication. He will be pursuing his fifth Masters in Fine Arts, specialising in Fiction and Poetry Writing. He has taught more than 50 courses in six different departments and has written more than 350 analyses/essays on Malaysia. His 25 years of teaching experience in Malaysia and the United States spans over a wide range of subjects, from elementary to graduate education. He has edited and authored six books; Multiethnic Malaysia: Past, Present, Future (2009), Thesis on Cyberjaya: Hegemony and Utopianism in a Southeast Asian State (2012), The Allah Controversy and Other Essays on Malaysian Hypermodernity (2013), Dark Spring: Essays on the Ideological Roots of Malaysia's General Elections-13 (2013), a first Malay publication Kalimah Allah Milik Siapa?: Renungan dan Nukilan Tentang Malaysia di Era Pancaroba (2014), and Controlled Chaos: Essays on Mahathirism, Multimedia Super Corridor and Malaysia’s ‘New Politics’ (2014). He currently resides in the United States where he teaches courses in Education, Philosophy, Cultural Studies, Political Science, and American Studies. His forthcoming book, One Malaysia, under God, Bipolar, a joint project between Gerakbudaya and World Wise Books of New Jersey, USA, is his seventh compilation of essays on Malaysian Cultural, Creative, and Critical Studies. He is currently working on his eighth book, on Gifted and Talented Education in Malaysia, honouring a prominent educator. Twitter, blog

