Paling Popular
Terkini
Lagi berita seperti ini
mk-logo
Seni & Hiburan
Bauksit: Seniman mengapa kamu bungkam?
Diterbitkan:  Jan 6, 2016 6:45 PM
Dikemaskini: 12:18 PM

Di mana suara penyair, penulis dan seniman yang selalunya lantang bersuara setiap kali dunia dikocak dengan isu pilu dan menghiris hati?

Itu pertanyaan dilontarkan penulis dan budayawan Raja Ahmad Aminullah dalam status di akaun Facebooknya.

Turut dimuatkan dalam suara hatinya itu adalah sajak Penyairku, di manakah suaramu.

Dalam nada berbaur kecewa, Raja Ahmad juga sinis mengkritik golongan seangkatan beliau yang kini membisu dengan penderitaan masyarakat di Kuantan, Pahang yang dilanda pencemaran bauksit.

Melalui sajak enam rangkap itu, beliau mengajak golongan intelektual, pelukis dan penyair yang kini dianggap sedang berdiam diri di tengah-tengah penderitaan rakyat Kuantan yang kini berdepan masalah keselamatan.

Dalam nota tambah di bawah sajak tersebut, Raja Ahmad turut menyindir golongan tertentu yang seolah-olah sengaja membutakan mata daripada melihat realiti yang berlaku.

"S ewaktu belajar undang-undang di United Kingdom sekian tahun lalu, saya diperkenalkan dengan konsep Nelsonian Blindness yang diperihalkan oleh seorang hakim.

"Konon Laksamana Nelson yang tersohor itu sengaja meletakkan teropong ke sebelah matanya yang tidak berfungsi (buta) agar dia tidak dihadapkan dengan gambaran yang tidak ingin didepaninya dalam suatu situasi," katanya.

Secara berterus-terang sajak Raja Ahmad menyifatkan, masyarakat hari ini lebih prihatin terhadap isu yang terjadi di negara-negara luar berbanding derita di tanah air sendiri.

Penularan kegiatan melombong bauksit kini dilihat semakin ketara menyebabkan pencemaran alam sekitar besar-besaran.

Sesetengah pihak juga mendakwa berlaku banyak kemalangan akibat aktiviti mengangkut bahan berkenaan.

Berikut adalah teks lengkap sajak Penyairku, di manakah suaramu oleh Raja Ahmad:

bungkam

semuanya bungkam

semuanya kehilangan suara

kasihanilah

rakyat murba yang tak terwakili di pejabat dan gedung

selepas undi mereka ditagih para kontestan pemilu

bungkam

orang pejabat bungkam

orang partai kehilangan suara

- tidak seperti selalu

pantang disuakan mikrofon

berdegarlah syarah ceramah dan khutbahnya

bungkam

para penyair kehilangan suara

para pelukis hilang kanvasnya

para ilmuan para intelektual

para perupa para penyair

terkial-kial tertanyatanya

apakah harus kita selidiki atau tuliskan

apakah harus kita lukis atau puisikan

bungkam sebungkam para agamawan

yang selalu tak putus ceramah dan syarahnya

orang-orang politik hanya mengutuk sama sendiri

tanpa berusaha mencari solusi

kalau ada gegar di Gaza

kalau ada banjir di Bangladesh

bila ketahuan penindasan terhadap Rohingya

bila terpahat di kaca tv

derita dan lara di Afrika atau Eropah

atau Syria atau mana sekalipun

berkajang-kajanglah kertas sarat puisi

dan sajak dihimpunkan

para deklamator pun lantang berdeklamasi

tapi

pabila gajah di depan mata

kita kehilangan visi

seperti laksamana nelson* di Trafalgar

kita seolah nampak

kuman nun jauh di seberang sana

bongkarlah suaramu

wahai sang politisi sang agamawan

sang akademisi sang intelektual

sang pelukis sang penyair

ketuklah pintu nuranimu

hidupkanlah jiwamu

tebarkanlah jaring empatimu

pada rakyat murba yang tidak punya suara

selepas mengundi dalam pilihan raya.


Sertai saluran WhatsApp Malaysiakini BM sekarang untuk mendapatkan perkembangan berita terkini!

Lihat Komen
ADS