Di mana suara penyair, penulis dan seniman yang selalunya lantang bersuara setiap kali dunia dikocak dengan isu pilu dan menghiris hati?
Itu pertanyaan dilontarkan penulis dan budayawan Raja Ahmad Aminullah dalam status di akaun Facebooknya.
Turut dimuatkan dalam suara hatinya itu adalah sajak Penyairku, di manakah suaramu.
Dalam nada berbaur kecewa, Raja Ahmad juga sinis mengkritik golongan seangkatan beliau yang kini membisu dengan penderitaan masyarakat di Kuantan, Pahang yang dilanda pencemaran bauksit.
Melalui sajak enam rangkap itu, beliau mengajak golongan intelektual, pelukis dan penyair yang kini dianggap sedang berdiam diri di tengah-tengah penderitaan rakyat Kuantan yang kini berdepan masalah keselamatan.
Dalam nota tambah di bawah sajak tersebut, Raja Ahmad turut menyindir golongan tertentu yang seolah-olah sengaja membutakan mata daripada melihat realiti yang berlaku.
"S
ewaktu belajar undang-undang di United Kingdom sekian tahun lalu, saya diperkenalkan dengan konsep Nelsonian Blindness yang diperihalkan oleh seorang hakim.
"Konon Laksamana Nelson yang tersohor itu sengaja meletakkan teropong ke sebelah matanya yang tidak berfungsi (buta) agar dia tidak dihadapkan dengan gambaran yang tidak ingin didepaninya dalam suatu situasi," katanya.
Secara berterus-terang sajak Raja Ahmad menyifatkan, masyarakat hari ini lebih prihatin terhadap isu yang terjadi di negara-negara luar berbanding derita di tanah air sendiri.
Penularan kegiatan melombong bauksit kini dilihat semakin ketara menyebabkan pencemaran alam sekitar besar-besaran.
Sesetengah pihak juga mendakwa berlaku banyak kemalangan akibat aktiviti mengangkut bahan berkenaan.
Berikut adalah teks lengkap sajak Penyairku, di manakah suaramu oleh Raja Ahmad:
bungkam
semuanya bungkam
semuanya kehilangan suara
kasihanilah
rakyat murba yang tak terwakili di pejabat dan gedung
selepas undi mereka ditagih para kontestan pemilu
bungkam
orang pejabat bungkam
orang partai kehilangan suara
- tidak seperti selalu
pantang disuakan mikrofon
berdegarlah syarah ceramah dan khutbahnya
bungkam
para penyair kehilangan suara
para pelukis hilang kanvasnya
para ilmuan para intelektual
para perupa para penyair
terkial-kial tertanyatanya
apakah harus kita selidiki atau tuliskan
apakah harus kita lukis atau puisikan
bungkam sebungkam para agamawan
yang selalu tak putus ceramah dan syarahnya
orang-orang politik hanya mengutuk sama sendiri
tanpa berusaha mencari solusi
kalau ada gegar di Gaza
kalau ada banjir di Bangladesh
bila ketahuan penindasan terhadap Rohingya
bila terpahat di kaca tv
derita dan lara di Afrika atau Eropah
atau Syria atau mana sekalipun
berkajang-kajanglah kertas sarat puisi
dan sajak dihimpunkan
para deklamator pun lantang berdeklamasi
tapi
pabila gajah di depan mata
kita kehilangan visi
seperti laksamana nelson* di Trafalgar
kita seolah nampak
kuman nun jauh di seberang sana
bongkarlah suaramu
wahai sang politisi sang agamawan
sang akademisi sang intelektual
sang pelukis sang penyair
ketuklah pintu nuranimu
hidupkanlah jiwamu
tebarkanlah jaring empatimu
pada rakyat murba yang tidak punya suara
selepas mengundi dalam pilihan raya.
