Aceh di persimpangan.....
Jika kita mengambilkira theory Thomas Hobbes, maka perjanjian damai Aceh yang ditandatangani di Helsinki tahun ini membayangkan bahawa Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah mempermanenkan penyerahan kontrak sosial bangsa Aceh ke dalam suatu kontrak sosial Indonesia yang tidak lebih baik, jika tidak boleh dikatakan gagal sama sekali.
Jika kita mengambilkira theory Thomas Hobbes, maka perjanjian damai Aceh yang ditandatangani di Helsinki tahun ini membayangkan bahawa Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah mempermanenkan penyerahan kontrak sosial bangsa Aceh ke dalam suatu kontrak sosial Indonesia yang tidak lebih baik, jika tidak boleh dikatakan gagal sama sekali.
Hobbes menulis dalam Leviathan di mana manusia membangun authoriti untuk merepresentasikan mereka, karena ingin terbebas dari ketakutan. Alasannya, kita semua tak kira kuat atau lemah, kaya atau miskin adalah dapat ditaklukkan. Nah, state, nation-state atau civil government atau apapun namanya yang kita dirikan akan mengambil kuasa untuk melaksanakan hukum untuk melindungi dan memberi kedamaian bagi rakyat (kita) yang telah memberi hak kuasa kepadanya.
Dalam hal ini Indonesia telah terbukti dengan meyakinkan adalah salah satu projek negara-bangsa yang gagal (failed state) di dunia ini. Bagi orang Aceh, bukan hanya sudah terlalu jauh di bawah keinginan mereka untuk membangun sebuah kuasa yang dapat menyelamatkan diri dari bunuh membunuh, dihancurkan atau menghancurkan, ternyata negara yang telah cuba mereka dirikan atau setidaknya dengan 'kepanikan' telah bergabung ke dalamnya itu berbalik menjadi ancaman atas keselamatan orang Aceh dan malah membinasakan mereka.
Virus yang diproduksi oleh failed state itu telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakatnya sendiri yang terlalu toleran atau dikondisikan untuk selalu mempunyai sikap toleransi pada masalah yang tidak wajar untuk diterima dengan sewenangnya.
Pada akhirnya, ini membuat cara berpikir mereka pun turun drastis dari sisi ethic, dan menjadi pihak yang tanpa disengaja ikut membentuk kerjasama dengan mesin-mesin intelektual dan ahli perniagaan yang berada dalam kekuasaan yang merasa termanfaatkan dalam operasi failed state.
Lebih menyakitkan lagi, moral kemanusiaan dalam lingkup kontrak tersebut semakin terkikis, sulit membangun rasa saling percaya dan susah mencari sesiapa yang dapat dipercaya. Contoh yang menarik adalah ketika Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) di Banda Aceh mengakui bahwa seorang auditor, Khairiansyah Salman, telah menjadi tersangka terlibat dalam korupsi di lembaga itu.
Hal ini mungkin tidak mengejutkan buat saya jika sekiranya ada seribu Khairiansyah lainnya yang terlibat, selain karena Khairiansyah ini adalah penerima Integrity Award oleh Transparency International kerana beliau telah mendedahkan kes korupsi di Komite Pemilihan Umum atau suruhanjaya pilihanraya Indonesia.
Kalau seorang penerima penghargaan atas jerih payahnya melawan korupsi pada akhirnya terlibat korupsi, lalu bagaimana pula yang lainnya?
Adakah GAM dan para aktivis Aceh, baik itu politik, demokrasi atau kemanusiaan bahkan para jurnalis, melihat bahawa idea nasionalisme untuk membuat kontrak sosial mereka sendiri menjadi sudah tidak relevan lagi dalam suasana dunia yang mulai 'membuka" batas-batasnya seperti di Eropah?
Atau adakah karena kondisi pasca-tsunami telah menghilangkan jiwa, kekayaan dan semangat bangsa Aceh? Mungkin juga impian untuk membangun sebuah nation-state yang tidak akan menjadi sebuah "failed state" akhirnya hanyalah satu mimpi?
Mungkinkah bangsa Aceh boleh atau diperbolehkan hidup dalam sebuah "failed state"? Tanyakanlah pada seorang anak yang datang sebuah rumah tanggan yang gagal, mungkinkah dia hidup tenang di dalam keluarganya yang kacau, miskin dari segi moral dan berpenyakit itu?
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah perlu dijawab dan direnungkan bersama, bukan sahaja oleh bangsa Aceh bahkan juga oleh semua pencinta kemanusiaan.
GAM yang menggelar dirinya sebagai pihak yang merepresentasikan rakyat Aceh bukan hanya telah mencuba menghapus kehendak popular rakyat untuk keluar dari "failed state", malah lebih jauh lagi mereka telah mengkhianati kehendak rakyat Aceh apabila Panglima Tentara Nasional Indonesia di Aceh menyebutkan bahawa semua kes hak asasi manusia yang wujud sebelum perjanjian damai ditandatangani harus dihapuskan tanpa perbicaraan.
GAM dan demokrasi
Jika hal demikian adalah benar, maka GAM dalam Indonesia dapat disebut telah memusnahkan hak kuasa yang diberikan oleh rakyat yang menginginkan keadilan. Ini merupakan suatu hal yang sangat berbahaya jika mereka menginginkan keadilan selanjutnya.
Keadilan itu tak akan dapat diraih dengan hanya mencambuk penjudi atau penzina atas nama hukum syariah, tetapi kemudian menutup mata atas pendosa-pendosa besar yang akibat tangannya telah merampas hak hidup, hak bersuara, hak berdemokrasi dan melakukan pelbagai aksi kejahatan kemanusiaan lainnya yang meracuni peradaban.
Menyedihkan lagi, kebanyakan NGO Aceh yang dulunya begitu giat dengan kerja-kerja pendemokrasian dan perjuangan hak asasi manusia seperti tidak terdengar suaranya sama sekali pada masa ini dalam soal penyelesaian kes kemanusiaan yang telah merenggut ribuan nyawa orang Aceh.
Suatu hal yang membahayakan akibat ini adalah terbentuknya suatu mentaliti terlalu pemaaf yang memberi peluang kepada tidak tegaknya hukum, dan pada akhirnya rakyat tidak akan mendapat keadilan "melindungi" dan "terlindungi".
Saya sendiri mengambil posisi bahawa perjanjian ini perlu direnung semula bukan karena saya tak mahu melihat damai, tetapi karena saya mahukan sebuah proses untuk mewujudkan damai yang mempunyai asas.
Apa yang diperlukan di Aceh bukan lagi sebuah perjanjian sebagaimana wujud beberapa perjanjian lain yang gagal sebelum ini. Kita tidak mahu sebuah damai dalam perkataan dan di atas kertas sahaja, tetapi akhirnya akan tetap menjadi sebuah kontrak sosial yang gagal, dan lebih parah lagi sebahagian dari kontrak sosial yang lebih besar yang juga gagal.
Apapun terma dan syarat perjanjian untuk rakyat Aceh harus diasaskan kepada kepercayaan bahawa Aceh itu punya semangat nasionalisme yang harus diperjuangkan. Tidah harus ditutup kemungkinan untuk orang Aceh membina ideologi dan kontrak sosialnya sendiri.
Hak ini harus ditunjangi oleh rasa hormat untuk pengekalan budaya dan jatidiri Aceh. Hak ini bukan sahaja diperjuangkan untuk bangsa Aceh, malah untuk apa jua bangsa yang kini tergabung dalam negara Indonesia itu.
Malah, kita harus melihat perkembangan ini sebagai proses penelitian semula (renegotiation) kontrak sosial negara Indonesia yang pastinya suatu proses yang akan berubah-ubah.
Yang lebih menyedihkan saya adalah bahawa MoU itu sendiri tidak berlalu dengan proses yang demokratis. Tidak ada proses pengambilan keputusan yang dibangun dan diperdebatkan di tingkat rakyat dan menggunakan lingkup masyarakat umum yang jelas dan yang seharusnya perlu dilewati dalam sebuah proses demokrasi untuk mengkaji kemungkinan untung atau rugi.
Lingkup borjuis
Apa yang terjadi ketika proses menandatangani MoU itu adalah memakai pola yang diidentifikasikan oleh Jrgen Habermas sebagai 'lingkup umum borjuis" (bourgeoise public sphere) di mana hanya sebagian elit saja yang menentukan kehendak jutaan rakyat, atau dalam kata lain adalah lingkup peribadi yang digelar sebagai lingkup umum.
Namun alasan yang lebih penting untuk pandangan skeptikal saya itu adalah kerana keadaan sekarang wujud semacam satu ketidakberdayaan rakyat Aceh membangkitkan bantahan dalam dominasi kebudayaan yang tidak sesuai apabila dominasi itu tidak dipisah dengan batas-batas yang jelas dengan "failed state".
Ketidakberdayaan ini bukan kerana tidak wujudnya keinginan untuk bangkit menentang, melainkan hanya kerana proses penentengan rakyat Aceh telah ditekan dan dihapuskan oleh pihak berkuasa.
Apalagi posisi penegakan hukum tidak sepenuhnya berada dalam kendali rakyat Aceh, malah menyerahkan sepenuhnya kendali penegakan hukum kepada pendukung "failed state" adalah lebih bodoh dari tindakan memberi kunci rumah kepada pencuri.
Proses "renegotiation" ini melibatkan entiti politik yang lebih besar dari Aceh sahaja, malah harus dimulai oleh Indonesia sendiri secara keseluruhan. "Failed state" harus ada solusi untuk menjadikannya lebih diterima oleh rakyatnya. Maka bentuk dan aspirasi negara itu sendiri harus diperbincangkan semula.
Untuk mencegah terjadinya kondisi yang merugikan atau menghentikan dominasi "failed state" baik dari segi kekuatan politik, ekonomi dan budaya, saya melihat perlunya ada sebuah gerakan alternatif untuk menghidupkan bantahan dalam proses negosiasi yang sedang terjadi.
Bantahan bukan untuk mewujudkan kekacauan di kalangan rakyat Aceh atau untuk kembali ke kancah peperangan, tetapi bantahan politik untuk membina sebuah kekuatan dalaman yang dapat berpartisipasi dalam sebuah rangka politik yang demokratik, yang akan menyuarakan kehendak dan keinginan rakyat Aceh secara umum dan bukan hanya yang elit.
Kesempatan untuk gerakan alternatif kini sudah terbuka lebar sejak keberadaan GAM pada pasca-tsunami ini mungkin akan menjadi elit politik dalam rangka politik Aceh.
Apakah GAM akan membuka ruang demokratik yang selama ini mereka perjuangkan dalam menolak 'penjajahan' Indonesia kini menjadi tandatanya yang besar di kalangan pejuang demokrasi.
Gerakan alternatif itu dengan sendirinya mampu menjadi alat bagi bangsa Aceh untuk menjaga kuasa tawar menawar (bargaining position) dan memperjuangkan kontrak sosial yang ideal untuk rakyat Aceh. Sedangkan persoalan perlukah nantinya Aceh keluar atau tetap dalam kontrak baru ini dapat dilihat dari kehendak majoriti pemberi kuasa iaitu rakyat Aceh sendiri.
Yang penting, hak itu tidak harus dimatikan sahaja dalam kontrak baru apatah lagi kerana kontrak itu dipakai dalam kerangka kontrak lama yang telah gagal.
EDDY L SUHERI adalah bekas jurnalis di Banda Aceh dan Jakarta, dan kini sedang melanjutkan pengajian di New School University, New York. Seorang penggiat demokrasi dan kebebasan bersuara, beliau juga kolumnis untuk akhbar The Bali Times .


Are you sure you want to delete this comment?
This action cannot be undone.